Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI-RRR) di level 6% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan Juni 2025. Keputusan ini diambil secara bulat oleh seluruh anggota Dewan Gubernur dan sejalan dengan ekspektasi mayoritas pelaku pasar.
"Ruang penurunan suku bunga masih terbuka, namun kami memilih pendekatan wait and see untuk memastikan bahwa langkah yang kita ambil tepat sasaran dan tidak menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan," ujar Gubernur BI dalam konferensi pers pasca-RDG.
Pertimbangan Keputusan
Keputusan untuk mempertahankan suku bunga didasarkan pada tiga faktor utama. Pertama, proyeksi inflasi yang terkendali di kisaran 2.5-3.5% untuk tahun 2025, masih dalam target BI sebesar 2.5±1%. Kedua, pertumbuhan ekonomi yang berada di jalur positif dengan proyeksi 5.1-5.3% untuk tahun ini. Ketiga, ketidakpastian global yang masih tinggi, terutama terkait kebijakan The Fed dan situasi geopolitik di Timur Tengah.
BI juga mempertahankan suku bunga deposit facility di 5.25% dan suku bunga lending facility di 6.75%, yang berarti koridor suku bunga BI tetap stabil di kisaran 75 basis point.
Respon Pelaku Pasar
Pelaku pasar menyambut keputusan ini dengan respons yang terukur. Rupiah bergerak stabil di level Rp15.400 per dolar AS, tidak jauh berbeda dari penutupan hari sebelumnya. IHSG juga bergerak sideways di sesi pagi sebelum akhirnya ditutup menguat tipis 0.3% di level 7.150.
- Yield obligasi pemerataan seri 10 tahun turun 2 bps ke 6.72%, menandakan kepercayaan investor terhadap stabilitas moneter
- Aliran dana asing tercatat net buy Rp 1,2 triliun di pasar saham pada hari keputusan diumumkan
- Kurs dolar AS di pasar spot tidak berubah signifikan, menandakan keputusan BI sudah fully priced-in
- Analis memproyeksikan potensi penurunan suku bunga di RDG Agustus jika inflasi tetap terkendali
Ekonom senior dari Universitas Indonesia menilai keputusan BI ini tepat dan menunjukkan kematangan kebijakan moneter Indonesia. "BI tidak terburu-buru menurunkan suku bunga hanya karena tekanan politik. Mereka menunggu data yang lebih kuat, dan itu adalah pendekatan yang bijak," komentarnya.

